Disela-sela kegiatan keseharian, gue menyempatkan diri untuk menonton ulang Hyouka. Hyouka adalah seri anime Jepang bergenre Mystery/Slice of Life yang diadaptasi dari serial novel oleh Honobu Yonezawa. Novelnya pertama kali terbit tahun 2001 dan sampai saat ini sudah terbit hinggal volume 6. Seri animenya sendiri rilis tahun 2012, berarti sudah 7 tahun sampai entri ini di tulis. Premis dari seri ini bercerita tentang tokoh utama, Oreki Houtarou yang saat masuk SMA, menerima surat dari kakaknya agar masuk klub sastra klasik di sekolah barunya. Kemudian Houtarou bersama dengan teman-teman satu klubnya: Chitanda Eru, Satoshi Fukube, dan Ibara Mayaka memecahkan berbagai misteri di sekitar mereka.
Sekilas seperti seri detektif, ya? Bisa dibilang seperti itu, sih, tapi kasus yang mereka pecahkan bukan kasus besar seperti pembunuhan atau pencurian. Misterinya adalah misteri sehari-hari yang ringan. Misalnya: kenapa Chitanda bisa terkunci di dalam ruang klub? Mengapa pengumuman sekolah terdengar aneh? Siapa pelaku dibalik rentetan pencurian saat festival budaya? Meski kasusnya ringan, tapi kemampuan deduksi Houtarou cukup pantas disandingkan dengan detektif fiksi lainnya.
Kali pertama gue tau anime ini gue masih kelas XI SMA, baru saja masuk penjurusan IPS. Yang memperkenalkan seri ini pertama kali, Cimol (tentu saja bukan nama sebenarnya, itu panggilan gue buat dia aja) teman satu kelas. Gue ingat waktu itu kayaknya kita nonton episode 1-4 bareng-bareng di kelas pada jam kosong. Entah kenapa, saat gue nonton untuk pertama kali, gue langsung tertarik dengan serinya. Apalagi, pada zaman itu jarang banget ada anime unduhan (ilegal, tentunya) dengan kualitas gambar sebagus itu dan sub bahasa Indonesianya yang alus banget.
Sebelum nonton Hyouka, gue engga menaruh perhatian khusus soal anime, manga, dan jejepangan. Nonton sih, nonton, baca sih baca, tapi ga sampai punya waifu/husbando 2D. Sampai akhirnya gue dipertemukan dengan Hyouka. Bagi gue, itu adalah titik balik ke-wibu-an gue yang paling memorable. Karena setelah nonton animenya sampai selesai, gue jadi mencari-cari anime dengan feel yang serupa. Sayangnya, ga banyak yang feelnya sama kayak Hyouka. Kendatipun demikian, gue jadi tertarik dengan anime bergenre lain. Sadar-sadar, judul anime yang gue tonton semakin banyak, gue mulai mengkoleksi husbando 2D, dan gue mulai bergabung dalam lingkaran pertemanan dengan kesukaan yang sama. Alhasil, gaya interaksi gue jadi jejepangan, isi percakapannya juga jejepangan... tiba-tiba saja, gue sudah jadi wibu.
Fase wibu gue itu bukan fase yang stagnan, kok. Kayak iman, fase wibu gue naik turun. Hal ini karena ga banyak orang yang bisa gue ajak berbagi ke-wibuan gue ini. Sewaktu kecil, kayaknya hampir semua tayangan yang target audiencenya anak-anak diimpor dari Jepang. Kemudian muncul Spacetoon, channel wajib semua anak-anak pada masa itu. Masuk sekolah, yang diomongin ya animu yang tayang kemarin. Tapi seiring berjalannya waktu, selera orang berubah, sementara itu stigma animasi hanya untuk anak-anak kuat. Makin gue dewasa, makin sedikit yang menikmati anime.
Sewaktu SMP, gue tergila-gila sama novel fantasy kayak Harry Potter dan Narnia. Jadi ke-wibuan itu memudar. Awal masuk SMA pun, gue malah lebih tertarik sama drakor tapi ga lama. (entah kenapa gue bersyukur kalau gue ga terlalu into korea banget). Kemudian, gue naik ke kelas XI dan akhirnya seperti yang gue jelaskan di awal...
Bahkan ketika gue kuliah pun, ke-wibu-an gue semakin kuat. Itu karena gue semakin banyak orang yang punya interest yang sama. Gue ngikutin anime yang lagi airing season itu. Gue dateng ke beragam event jejepangan. Yang gue obrolin hampir semua tentang Gintama, sama orang yang rekomendasiin gue anime itu. Gue main banyak judul Otome (semacam visual novel dimana tokoh utamanya bisa milih rute pasangan yang dia inginkan). Husbando 2D gue bertambah, begitu pula dengan waifu gue. Kemudian gue mulai menggali judul-judul retro, masuk ke fandom itu. Dari sana, gue juga mengeksplor band-band indie Jepang. Novel-novel yang gue baca juga jadi cenderung ke jejepangan, terutama tulisannya Haruki Murakami.
Tapi, tentu aja ada saatnya dimana gue merasa gue sudah cukup dengan semua itu dan memutuskan untuk ga Jejepangan lagi. Itu saat dimana gue lagi bener-bener lagi down, sampai apa yang gue sukain dulu, sekarang sama sekali ga merasa menyenangkan. Gue bahkan ga nyoba buat gambar-gambar lagi. Ketika gue kira gue ga akan pernah bisa kembali ke fase itu, gue nonton ulang Hyouka.
Dari sana, tiba-tiba gue jadi teringat kembali betapa segala entertaiment ke-wibu-an ini menghibur gue. Dari hal kecil aja, misalnya gue ga sengaja nonton comedy skit Jepang. Mengejutkan karena gue bisa mengerti punchlinenya dimana kalau orang awam yang nonton mungkin ga akan engeh. Kegemaran Jejepangan gue juga makin meluas, ga sebatas manga atau anime, tapi juga ke musik-musiknya. Gue suka banget dengerin Ling Toshite Sigure, awalnya dari nonton Psycho-pass, sih. Setelah spotify booming, gue jadi dapet rekomendasi-rekomendasi band Jepang dengan genre serupa. Gue diperkenalkan dengan Mass of the Fermenting Dregs dan Tricot. Kendatipun gue sama sekali tidak memahami liriknya, gue sangat menikmati musik mereka.
Terlepas dari stigma negatif mengenai istilah "wibu", gue tidak merasa kecil hati dengan kegemaran yang satu ini. Bagi gue, orang memiliki hobi dan kegemaran yang berbeda, yang kadang tidak dimengerti oleh orang lain. Misalnya saja, A punya kegemaran koleksi figurine, sementara B hobinya koleksi batu akik. Berhubung apa yang membuat mereka senang berbeda tentu saja mereka tidak bisa merasa simpati dengan hobi satu sama lain.
"Ih apa sih beli mainan kayak gitu? Mending bisa dimainin ini cuma dipajang doang" Kata B ke A,
"Dih daripada lo, apa sih koleksi batu ga guna gitu? Mending bisa dijual kayak logam mulia ini engga."
Well, percakapan diatas pasti akan terjadi, kan?
Agak gimana ya, kalau kita masih berusaha membangun sebuah kasta sosial berdasarkan hobi orang. Bagi gue ga masalah kalau hobi kalian normies sementara hobi gue wierdo. Semua hobi adakalanya membutuhkan pengorbanan yang sama: duit. Kayak K-popers yang loyal terhadap bias mereka, atau anak senja yang ngabisin bulanan mereka untuk duduk nongkrong menikmati kopi. Mungkin bagi pemegang istilah "wibu bau bawang" berpikir hobi ini hanya untuk orang-orang tidak punya kehidupan. Tapi kamu salah, wahai normies ada banyak wibu diluar sana yang punya kehidupan lebih berwarna, mereka bekerja sebagaimana normies lainnya, menikah, punya keluarga, punya anak. Ga semua wibu gendut keringetan dan berwajah om-om kimoi.
Sayangnya, makin ke sini, gue sadar kalau temen yang bisa diajakin ngewibu semakin sedikit. Rasanya,,. gue agak kesepian.... terasingkan. Tapi, well, gue patut bersykur orang-orang di sekeliling gue yang bisa dibilang normies sama sekali ga merendahkan gue untuk apa yang gue sukai. Jadi untuk apa gue minta yang muluk-muluk, apa yang ada sekarang udah cukup buat gue.
Sejak menemukan podcat ke-wibua-an kayak otaku box di Spotify atau Gokiru Japan, gue ga terlalu merasa terasingkan lagi. Di luar sana ternyata masih banyak wibu-wibu lain.
Kayaknya.
Comments
Post a Comment