Di tengah kesibukan jaga rumah dan anak (yang sejujurnya sedang gue laksanakan setengah hati belakangan ini--tapi ini bakal gue bahas di lain kesempatan) gue menyempatkan diri buat nonton film. Lebih tepatnya film-film Ghibli.
Gue memang udah berkali-kali rewatch film-fim dari studio Ghibli, apalagi From Up of Poppy Hills yang notabene adalah favorit gue, tapi kali ini gue memutuskan untuk nonton dengan dubbing Bahasa Indonesia. Alasannya, karena anak gue suka ikutan nonton. Berhububg gue sedang berupaya meningkatkan kemampuan bahasanya, sebisa mungkin gue fokus ke satu bahasa dulu. (Saat gue nonton pakai audio Jepang dia ikutan niru soalnya. Contohnya "baa-chan! Baa-chan!"... Oke anak gue wibu sebelum waktunya). Surprisingly, dubbingnya bagus, yah meski ada di beberapa film yang rada ga pas tapi kebanyakan bagus.
Hari ini yang gue tonton "My Neighbors the Yamadas", ceritanya bekisar tentang keluarga Yamada yang terdiri dari Takashi (Ayah), Matsuko (ibu), Noboru (anak pertama), Nonoko (anak kedua), dan Shige (ibunya Matsuko). Sebagaimana anime slice of life tentang Keluarga, film ini sebenarnya terdiri dari beberapa sketsa mini soal keseharian mereka. Mirip Atashinchi sih ya (ini gue bahas lain hari juga). Ringan, lucu, dan dekat dengan keseharian gue meski latar budayanya beda.
Ada satu sketsa yang cukup membekas di gue. Ceritanya saat resepsi pernikahan Takashi dan Matsuko, mereka diberi wejangan sama (kayaknya) ibu Takashi. Saat wejangan ini diberikan, visual yang disajikan begitu simbolis. Dimulai dari kedua mempelai yang memulai perjalanan mereka dengan mobile, kendaraan mereka kemudian kian berubah seiring perjalanan pernikahan mereka berjalan. Menghadapi masalah, menghadapi rintangan, punya anak... Wejangan pernikahannya panjang, gue ga ingat seluruhnya. Tapi ini yang bener-bener terpatri di otak gue. Kira-kira begini isinya:
"Ngomong-ngomong, mana yang paling menakutkan dalam perjalanan kehidupan? Ombak yang besar atau arus yang deras? Sebenarnya jawabannya adalah permukaan air yang tenang. Jika kalian menghadapi rintangan, kalian akan menghadapinya bersama dan bergandengan tangan. Tetapi setelah badai berlalu, kalian akan bernapas lega, menurunkan kewaspadaan dan melepaskan genggaman. Karena itu, jika kalian terus-terusan bersantai di saat seperti ini, kalian bisa berpisah sebelum kalian menyadarinya. Kita tidak akan pernah tahu bahwa ada hiu yang mengintai, selain itu, karena tidak ada angin, kapal tidak akan berlayar. Pun kalau kau ingin memaksa perahu bergerak dengan dayung, kalian akan berputar-putar karena yang satu ingin ke kanan, sementara yang satu ingin ke kiri... Kau akan mulai berpikir 'untuk apa semua harus di dalam perahu'? Dan saat itulah kau berada dalam krisis keluarga"
Sebagaimana otak gue yang sederhana ini memproses isi nasihat di atas: gimana orang seringkali terlena di saat-saat paling baik yang bisa mereka rasakan, kalau kita tidak terus memperkuat hubungan maka yang terjadi adalah perpecahan dalam hubungan. Kapal yang bernama "keluarga" ga akan bisa jalan karena semua maunya mengikuti arahnya sendiri. Which is true, generally.
Entah berkaitan atau engga, tapi kita semua tahu kalau ada fase dalam hubungan yang disebut fase bulan madu. Fase ini biasanya dialami pada masa-masa awal hubungan, pacar baru, suami/istri baru, awal pernikahan. Segala sesuatu tentang pasangan kita itu sempurna, serasa kita adalah orang paling beruntung di dunia, percaya bahwa kita adalah keluarga paling bahagia di bumi. Namun, seringkali fase ini berakhir layaknya gelembung pecah-pop-berakhir begitu aja.
Tetapi hal ini seringkali membuat kita lupa, kalau kita harus senantiasa siap menghadapi apa yang menjadi rintangan di depan. Kalau kita tidak punya persiapan, kerikil kecil pun bisa menghambat perjalanan kita. Bekal itu ya: kepercayaan, komunikasi, toleransi, welas asih, dan cinta. Kalau semua itu dirasa udah kuat, mungkin masalah akan lebih bisa ditangani.
Kita semua pun tau, bahwa ga ada keluarga yang sempurna. Karena sebagai manusia, kita juga serba kekurangan. Begitu juga keluarga Yamada. Tetapi rasanya mereka bisa menjalani hari-hari dengan hangat. Ada satu sketsa lagi yang menurut gue cukup lucu dan memorable, yaitu saat Takashi berdebat dengan Shige soal siapa yang paling berhak atas rumah tinggal mereka. Rumah itu berdiri di atas tanah keluarga Shige, sementara bangunannya dibuat dari uang tabungan Takashi. Mereka berdebat siapa yang sepantasnya jadi 'pemilik' rumah itu. Saat perdebatan makin memanas, Noboru datang dan menegur, "Tidak ada gunanya bertengkar soal siapa pemilik rumah ini. Toh, pada akhirnya akan menjadi milikku!".
Comments
Post a Comment