Skip to main content

Kebunuhdirian

Hari Minggu tanggal 20 Oktober 2019 yang lalu, datang ke event discussion & workshop mengenai mental health. Tema eventnya mengenai Suicide Prevention, pas banget sama tema World Mental Health day tahun ini. Pertama kali tahu event ini dari akun instagramnya dr. Jiemi Ardian, seorang dokter spesialis kejiwaan dan social media influencer yang gue ikutin (Sejak gue mulai tertarik dengan isu mental health, gue jadi banyak follow komunitas, instansi, atau orang-orang yang juga concern dengan hal itu). Kalau dipikir-pikir, gue juga belum pernah datang ke event soal mental health, dan weekend itu gue juga ga ada agenda so why not?

Acaranya diselenggarakan di Volunteer Hub, Jakarta Selatan, lima menit jalan kaki dari stasiun MRT Blok A. Kursi yang disediakan untuk audience ga sebanyak yang gue kira, sekitar 20-30 kursi? (ga ngitungin dengan detail) dan baru beberapa aja yang sudah terisi, mungkin karena gue datangnya juga kecepetan. Ketika masuk ke ruangan, gue lihat dr. Jiemi lagi ngobrol. Selama ini gue ngeliat dr. Jiemi lewat instragramnya doang, ngeliat orangnya secara langsung, rasanya agak aneh (bukan dalam artian negatif ya). Kesan pertama gue lihat beliau, ternyata ga berbeda jauh dari bayangan gue. Orangnya kecil, kalau dibandingkan sama gue, pembawaannya adem, dan wajahnya baby face (maaf kalau kesannya malah jadi mengejek, tapi itu pujian kok, dok).

Setelah kursi sudah mulai terisi, acara dimulai, pertama ada sambutan dari directornya alpas.id, kemudian langsung lanjut ke sesi paparan dari dr. Jiemi tentang suicide prevention guideline.

Pertama, dr. Jiemi menjelaskan soal suicidality atau menurut versi Bahasa Indonesia-nya dr. Jiemi, "kebunuhdirian". Memang kata yang sangat asing di telinga sih, tapi maksud penggunaan kata ini adalah untuk menjelaskan proses orang sampai melakukan suicide (bunuh diri). Jadi menurut beliau, bunuh diri tidak hanya sekadar (maaf) gantung diri, sayat urat nadi, atau lompat dari jembatan ke sungai. Orang-orang yang punya keinginan untuk bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda-tanda. Kalau biasanya yang kita tahu orang akan bilang "I wan to die" sebenarnya jauh sebelum kata itu keluar ada tanda lain.

Hal ini yang disebut dengan tahap pertama, yaitu ide pasif. Biasanya mereka ga akan langsung bilang "Gue pengen mati". Biasanya mereka akan memakai kalimat-kalimat yang lebih halus kayak: "Gue boleh hilang aja ga?" atau "Bisa ga kiamat aja?" atau "Bisa skip aja ga sih?" atau "Untuk apa gue hidup ya?". Mungkin bagi pendengar, kalimat-kalimat tersebut biasa saja, sekadar guyonan, sekadar sambat. Tapi dr. Jiemi menjelaskan bahwa kalimat-kalimat itu keluar karena mereka merasa painful bahwa ada sakit yang dirasa sampai dia ingin "menghilang". 

Rasa sakit ini lah yang menjadi dasar orang sampai melakukan suicide. Menariknya, dr. Jiemi bilang, otak kita tidak bisa membedakan rasa sakit yang fisik sama rasa sakit yang psikis. Otak akan memproses rasa sakit yang emosional dengan jalur yang sama dengan sakit fisik. Bisa dilihat dari pasien kanker yang stadium parah, seringkali mereka sudah diberi morphin tapi rasa sakitnya ga hilang. Bagi otak, sakit itu ga enak, karena itu sudah jadi tugas otak untuk menghilangkan rasa sakitnya.

Permasalahannya, bagaimana kalau rasa sakitnya tidak hilang? Maka jalan yang dipilih adalah menghilangkan kesadaran.

Kedua, ide aktif. Pada tahap ini, seseorang akan mulai menyebut/membicarakan ide-ide tentang kematian, walau belum ada keinginan untuk mati. Misalnya aja tiba-tiba ngomong "gimana ya, rasanya kalau mati?"

Kemudian perencanaan bunuh diri. Perencanaan ini tidak sampai kemudian memikirkan waktu ia ingin bunuh diri. Biasanya mereka baru akan menentukan tempat dan cara ia ingin bunuh diri.

Setelah itu orang akan mulai melakukan percobaan bunuh diri. Pada tahap ini, kata dr. Jiemi, biasanya orang yang pernah mencoba bunuh diri akan merasa relief. Rasa sakit yang ia rasakan akan berkurang secara drastis, mungkin dia akan sadar kalau apa yang ia coba lakukan salah. Tapi jangan salah, itu hanya rasa lega yang sesaat. Karena, kemungkinan besar mereka akan coba lagi.

Karena, ketika sumber sakitnya tidak dihilangkan, maka suatu saat ia akan merasa sakitnya lagi. "Kita sedang berbicara soal sakit ya, bukan salah atau benar. Percayalah, semua orang yang punya keinginan untuk bunuh diri tahu kalau bunuh diri itu salah." Kata dr. Jiemi tegas.

Mengenai hal ini, gue juga baru paham belakangan. Kalau semisalkan orang yang bunuh diri... atau punya keinginan untuk melakukan itu, bukan semerta-merta karena imannya lemah. Bukan sekadar dia kurang ibadah. Karena dia sedang merasakan sakit. Kita harus tahu bahwa resilience orang terhadap rasa sakit berbeda. Jadi kita tidak punya hak untuk menghakimi "Kurang ibadah sih lo" ke orang yang merasa sakit. Yes, sebagai orang yang memeluk agama gue percaya kalau Tuhan itu tempat kita meminta pertolongan. Yes, gue tahu kalau kita percaya sama YME kita akan dikuatkan. Tapi gue juga tahu kalau kita sebagai umat-Nya, kita seharusnya bantu orang yang sedang rapuh. Bukan sekadar komentar "kamu harus doa, kamu harus sholat lalalala."

Paragraf di atas hanya opini tambahan gue aja.

dr. Jiemi juga membahas mengenai faktor dan tanda-tanda orang ingin melakukan bunuh diri. Dalam paparannya, ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi oran yang melakukan bunuh diri; sosial, biologi, riwayat hidup, gangguan jiwa, dan faktor geografis. Lebih jelasnya, beliau menjelaskan dengan Stress Vulnerability Model:


Di grafik ini, tertulis beragam faktor yang bisa mentrigger seseorang untuk melakukan bunuh diri.  Oleh karena itu, ga semua orang triggernya sama, karena kalian bisa baca sendiri kalau ada banyak faktornya kan? Selain itu, kenapa grafiknya naik turun? Karena kendatipun ada faktor yang membuat seseorang stres, tingkatannya akan menurun kalau ada kegiatan-kegiatan tertentu atau lingkungan mendukung, misalnya. dr. Jiemi mencontohkannya kayak tidur lebih pulas, makan makanan lebih sehat, olahraga, berhenti merokok, atau teman dan lingkurngan support makan tensionnya akan menurun.

Sedihnya, masih banyak stigma yang beredar mengenai orang atau tindakan bunuh diri ini. Stigma yang paling banyak adalah orang bunuh diri itu memang ingin bunuh diri. No, sekali lagi ini salah besar. Karena sebagian besar orang yang ingin bunuh diri meminta bantuan ke dokter. Ini jelas-jelas bukti bahwa orang yang bunuh diri itu sebenarnya tidak ingin mati. Stigma lain adalah orang yang bunuh diri adalah mereka yang kurang imannya, nyatanya, ada seorang pendeta yang meninggal bunuh diri. Rasa sakit tidak mengenal seseorang beriman atau tidak.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Sebenarnya ada banyak hal yang harus kita lakukan. Pertama, kalau yang jiwanya sakit ya harus diobati. Terutama dengan memperbaiki cognitifnya. Hal ini bisa dilakukan dengan pergi ke profesional. Selain itu, intervensi faktor resikonya juga harus diatasi. Misalnya ekonomi, konflik, dan lain-lain. Tentu saja ini tidak bisa dilakukan sendiri, tidak bisa hanya dilakukan hanya pergi ke psikiater/psikolog, tidak hanya bisa diatasi dengan ke uztad dan berdoa. Semua pihak harus bekerja sama untuk menciptakan situasi yang mendukung untuk teman-teman penyitas.

Lebih sederhananya, yang bisa kita lakukan secara individu untuk membantu teman-teman kita yang sedang dalam kesedihan ada dos and don'ts:


  1. Don't
  • Melempar asumsi dan sok mendiagnosa
Contohnya kayak "Ih kamu GILA ya?" atau "Kamu kurang sholat sama berdoa sih makanya begitu."
  • Meremehkan
Contohnya "Ah elah baru diputusin aja udah mau bundir, liat tuh anak-anak di Palestina lagi berjuang."
  • Menceramahi dan menggurui
"Sabar ya, semua akan baik-baik aja." (dr. Jiemi bilang, mungkin maksudnya baik, tapi sebagian orang saat sedang merasa sedih, kalimat itu terasa semu. Seolah kita tahu keadaan dia, padahal kita lagi ga di posisi dia)
  • Meninggalkan
  1. Do
  • Asking the right question
Kayak "gimana perasaanlo saat ini?", "apa yang bisa aku bantu untukmu?", "apa yang buat kamu bisa bertahan sampai saat ini?"

  • Menyiapkan diri
Ini penting banget karena kita harus sadar kalau adakalanya kita lagi ga siap untuk terima curhatan orang lain, kan? Kalau kamu sedang ga siap, tolong jangan paksakan diri untuk membantu apalagi mencoba menyelesaikan masalah orang lain. Kamu bukan super hero, Psikolog/Psikiater aja butuh belajar bertahun-tahun, siape lo tiba-tiba berhak merasa bisa membantu menyelesaikan masalah orang lain?

  • Simpan asumsi untuk diri sendiri
Kalau misalnya ada temen yang dateng curhat kucingnya meninggal, sedih banget dan yang dipikiranmu "Elah kucing doang. Kan bisa pungut/beli lagi." STOP jangan diucapkan. Kendatipun alasan seseorang sedih ga masuk akal buatmu, tolong jangan sekali-kali meremehkan rasa sakitnya (kalau bahasanya dr. Jiemi, "invalidasi" tapi terakhir kali gue pakai kata itu, gue dikatain kayak si Vicky-nya Angel Lelga)
  • Kalau temanmu udah menyatakan niat bunuh diri, tanyakan udah berapa lama dia memikirkan hal itu? apa dia sudah merencanakannya? Seberapa sering dia memikirkan itu?
  • Jauhkan temanmu dari bahaya
Maksudnya untuk sementara waktu, kamu jauhkan benda-benda yang bisa dia pakai untuk mengakhiri hidup. Misalnya gunting, atau pisau, atau obat nyamuk dan cairan pemutih dan lain-lain. Mudahnya akses juga menjadi faktor seseorang melakukan bunuh diri.

Untuk kamu yang pernah atau sedang berpikiran untuk... bunuh diri (semoga ga ada ya). Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan:
  1. Sadar akan pikiran bunuh diri. Ketika kamu sedang dalam keadaan yang super ga enakin, dan kamu mulai berpikir "Mati enak kali, ya," tolong pelan-pelan pahami hal itu, jangan langsung menyangkal.
  2. Buat rencana kegiatan atau distraksi saat pikiran bunuh diri itu muncul. Mengerjakan hobi, misalnya? Atau olahraga, sampai capek dan kamu tidur. Atau kalau yang religius doa, bisa. Atau kalau gue, nonton video kucing.
  3. Temukan safe place. Kadang kamu hanya butuh tempat untuk menyendiri dan mencari ketenangan. Harus ada satu tempat dimana kamu bisa mengungsi untuk sementara waktu.
  4. Orang yang bisa kamu hubungi untuk meminta pertolongan. Harus orang yang kamu percaya dan kamu anggap mampu membantu kamu, ya.
  5. Menjauhkan diri dari benda berbahaya.
Huft, merangkumnya ga semudah yang gue kira. Kurang lebih seperti itulah paparan dr. Jiemi mengenai suicide prevention. Ada banyak fakta dan hal lain yang dibahas selama paparan, tapi sayangnya ga semua bisa gue ceritakan di sini. Tapi yang paling gue susah lupa adalah ketika dr. Jiemi menjelaskan keterkaitan otak dan emosi.

Misalnya, pada kasus orang yang meninggal bunuh diri karena diputusin pacar. Kita pasti berpikir kalau tindakan itu irrasional, kan? Cowok/cewek masih bertebaran di dunia, ngapain sih stress dan bunuh diri karena satu orang.? Hal itu karena otak dirancang agar kita punya naluri untuk survive. Seiring berkembangnya manusia, kesadaran untuk bersosial dan ber-coexistance semakin berkembang juga. Itu dilakukan untuk bertaham hidup. Karena itu, ketika ada separation, otak akan mengirim sinyal kalau itu adalah ancaman bagi survival mereka. Menarik, ya

Ternyata datang ke event kayak gini menyenangkan juga. Banyak pengetahuan yang sebelumnya gue belum pernah aware akan hal itu.  dr. Jiemi menjelaskan secara lengkap, beliau juga jawab pertanyaan audience dengan sabar dan selengkap mungkin. Tujuan utama ikut event ini sebenarnya gue pengen tahu soal kesehatan mental. Ingin lebih memahami soal topik ini, satu sisi untuk bisa lebih memahimi diri sendiri dan orang lain juga.

Beberapa kesimpulan yang bisa gue ambil dari pokok diatas antara lain, bagaimana kita mengambil sikap kalau ada teman kita yang sedang dalam state itu. Mencoba untuk menyalahkan dan menghakimi, satu sisi juga ga boleh sok jadi pahlawan dengan menyelesaikan maslah mereka. Ketika ada teman yang datang ke kita, kita harus dalam keadaan siap: siap dengerin dia cerita berjam-jam, siap untuk menerima dampaknya ke kita, siap untuk mengambil tindakan yang tepat. Kalau kita penyitas, kita harus paham kalau apa yang kita pikiran sejatinya hanya sekadar pikiran. Selain itu kita ga perlu takut untuk bercerita ke orang lain karena siapa tahu itu akan membantumu menjadi lebih lega.


Comments

Popular posts from this blog

Life Lesson from Slice of Life anime #1 - My Neighbor the Yamadas

Di tengah kesibukan jaga rumah dan anak (yang sejujurnya sedang gue laksanakan setengah hati belakangan ini--tapi ini bakal gue bahas di lain kesempatan) gue menyempatkan diri buat nonton film. Lebih tepatnya film-film Ghibli. Gue memang udah berkali-kali rewatch film-fim dari studio Ghibli, apalagi From Up of Poppy Hills yang notabene adalah favorit gue, tapi kali ini gue memutuskan untuk nonton dengan dubbing Bahasa Indonesia. Alasannya, karena anak gue suka ikutan nonton. Berhububg gue sedang berupaya meningkatkan kemampuan bahasanya, sebisa mungkin gue fokus ke satu bahasa dulu. (Saat gue nonton pakai audio Jepang dia ikutan niru soalnya. Contohnya "baa-chan! Baa-chan!"... Oke anak gue wibu sebelum waktunya). Surprisingly, dubbingnya bagus, yah meski ada di beberapa film yang rada ga pas tapi kebanyakan bagus. Hari ini yang gue tonton "My Neighbors the Yamadas", ceritanya bekisar tentang keluarga Yamada yang terdiri dari Takashi (Ayah), Matsuko (ibu), Noboru (an...

How to feel, exactly?

Ada satu line di serial drama CSI, yang sampai saat ini terngiang di kepala gue. Padahal, episode berapa, season berapa, gue sebenarnya sama sekali gak ingat. Kira-kira begini linenya: "Is that how you truly feel? Or you think you should feel?" Apakah itu benar-benar yang kamu rasakan, atau yang menurutmu harus kamu rasakan? Jujur gak ingat pasti bagaimana Grissom menyampaikannya, tapi kira-kira begitulah. Kalau gak salah dia lagi ngomong sama Miniature Killer di penjara. Kalau gak salah, si pelaku mengidap psikosis, mentally unstable, dan sudah melakukan pembunuhan beberapa kali. Jelas ketika dia meminta maaf dan bilang kalau dia menyesal, Grissom sangsi dan gak langsung percaya.  Memahami emosi itu gak mudah, let alone berempati secara tulus dan dari lubuk hati yang dalam. Seringkali gue gak merasa terkoneksi secara emosional dengan orang-orang sekitar gue. Paling mentok, gue cuma bisa acknowledge perasaan mereka "oh dia lagi sakit", "oh dia lagi sedih",...

Jalan Wibuku

Disela-sela kegiatan keseharian, gue menyempatkan diri untuk menonton ulang Hyouka. Hyouka adalah seri anime Jepang bergenre Mystery/Slice of Life  yang diadaptasi dari serial novel oleh Honobu Yonezawa. Novelnya pertama kali terbit tahun 2001 dan sampai saat ini sudah terbit hinggal volume 6. Seri animenya sendiri rilis tahun 2012, berarti sudah 7 tahun sampai entri ini di tulis. Premis dari seri ini bercerita tentang tokoh utama, Oreki Houtarou yang saat masuk SMA, menerima surat dari kakaknya agar masuk klub sastra klasik di sekolah barunya. Kemudian Houtarou bersama dengan teman-teman satu klubnya: Chitanda Eru, Satoshi Fukube, dan Ibara Mayaka memecahkan berbagai misteri di sekitar mereka. Sekilas seperti seri detektif, ya? Bisa dibilang seperti itu, sih, tapi kasus yang mereka pecahkan bukan kasus besar seperti pembunuhan atau pencurian. Misterinya adalah misteri sehari-hari yang ringan. Misalnya: kenapa Chitanda bisa terkunci di dalam ruang klub? Mengapa pengumuman seko...