Di Jepang, ada ribuan orang yang menghilang tanpa jejak setiap tahunnya. Informasi ini gue dapat dari liputan investigasi "Undercover Asia" dari CNA. Sebenarnya kasus semacam ini di Indonesia juga banyak, tapi yang membuat liputan video ini menarik buat gue adalah orang-orang tersebut menghilang atas keinginannya sendiri. Liputannya diawali dengan kisah Miyamoto Naoki yang hilang selama 17 tahun. Pada hari dia menghilang, dia berangkat kerja seperti biasa. Tapi ketika diselidiki, ia ternyata sudah keluar dari pekerjaannya. Saksi mata menyebutkan terakhir kali melihat Naoki menaiki kapal ferry, tapi ga ada yang lihat dia turun dari kapal. Pihak kepolisian menyimpulkan kalau Naoki bunuh diri dengan terjun ke laut. Tentu keluarganya tidak menerima hasil penyelidikan ini, karena sikapnya terlihat biasa saja sebelum menghilang.
Kemudian ada penjelasan dari seorang ahli sosiologi tentang konsep "Johatsu" yang secara harfiah berarti evaporated (dalam bahasa Inggris, kalau diterjemahkan lagi dalam bahasa Indonesia jadi aneh "menguap"). Si Ahli menjelaskan bahwa fenomena sosial ini cukup banyak di tahun 70an. Kemudian topik beralih ke sebuah jasa "pindahan" yang membantu orang-orang untuk menghilang, disebut yonigeya. Jasa ini muncul karena ada banyak orang yang ingin menghindar dari penagih hutang. Sistemnya cukup simpel, sebenarnya, mereka membantu klien untuk pindah rumah secara diam-diam di malam hari. Tapi dengan bayaran yang lebih mereka juga bisa membantu klien untuk "menghilang". Jasanya, selain pindahan, meliputi: mengurus administrasi dari dan ke kota tujuan, menyewa pengacara untuk klien, koordinasi dengan kepolisian demi kelancaran perpindahan klien. Kalau dilihat dari liputannya, mereka ga setengah-setengah dalam memberikan jasa ini.
Dalam liputan tersebut, mereka membantu klien yang ingin melarikan diri dari suaminya yang melakukan KDRT. Si pemilik tidak hanya datang dengan membawa truk untuk memindahkan barang, tetapi dia juga mengatur strategi perpindahan si klien. Motivasi sang pemilik untuk mendirikan bisnis ini karena beliau pernah mengalami KDRT semasa menikah. Ia tahu bahwa mengajukan perceraian atau mengadukannya ke polisi kadang mengancam nyawa perempuan, terutama kalau si suami berniat balas dendam. Polisi sendirj terkadang tidak banyak membantu, karena pada masa itu masalah keluarga dianggap ranah pribadi dan mereka akan dianggap mencenderai hak personal seseorang. (yang kalau dipiki ga masuk akal tapi ya sudah--).
Setelah itu mereka mengcover cerita dari seseorang yang memilih untuk menghilang. Namanya, Sugimoto. Sudah hilang selama dua tahun. Kalau kalian tau latar belakangnya, mungkin kalian akan heran kenapa dia memilih untuk menghilang, padahal keluarganya punya bisnis besar di Kansai.
"Ketika saya masih muda, orang-orang selalu memandang saya sebagai anak dari seorang figur. Karena itu saya merasa gerak-gerik saya selalu diawasi.... Kemudian saya merasa muak dengan interaksi macam itu dan saya memutuskan untuk menghilang." Kata Sugimoto.
Gue bisa paham tekanan yang dirasakan Sugimoto, kendatipun gue juga ga setuju dengan jalan yang dia ambil. Apalagi, dia menghilang meninggalkan istri dan anaknya yang masih kecil.
Kalau sudah gini, ee... biasa kita sebut apa dia?
Pengecut? Lelaki Kampret? Lelaki ga bertanggung jawab.
Mudah untuk menghakimi orang seperti itu tanpa berusaha untuk memahami perasaannya. Padahal kita tidak ada di posisinya. Masalahnya sepele bagi kita, tapi sakitnya itu nyata. Yang buat makin sedih, Sugimoto pun tidak yakin kehidupannya setelah menghilang lebih baik atau lebih buruk. Dia sering kali merasa bersalah terhadap istri dan anak-anaknya. Ada kalanya dia merasa kalau dia melakukan kesalahan, satu-satunya yang bisa membuat dia survive adalah dengan berbicara pada anaknya.
"Anak-anakku tidak tahu aku menghilang. Mereka hanya tahu aku tidak pulang ke rumah karena aku sedang bekerja."
Satu kisah lagi mengenai Masayoshi, seorang manula yang menghilang dari rumah jomponya. Masayoshi tinggal bersama istrinya, Michiko, di rumah jompo itu. Beberapa hari sebelum menghilang, ia sempat berkelahi dengan staf perawat di rumah jompo itu. Sejak perkelahian tersebut, Masayoshi setiap hari keluar panti dan menghabiskan waktu di luar. Michiko bercerita bahwa suaminya sempat berkata bahwa ia tidak tahan lagi berada di sana, mengemasi semua pakaiannya ke dalam tas, dan pergi membawa barang-barang itu. Michiko sempat ikut dengannya ke stasiun sebelum Masayoshi bilang ia akan membeli tiket. Karena tidak kunjung kembali, Michiko memutuskan untuk mendatangi loket penjualan namun Masayoshi tidak ada di sana.
Michiko kemudian melapor pada polisi. Namun, mereka juga tidak bisa membantu banyak karena polisi menganggap kasus menghilangnya Masayoshi didasari atas keinginannya sendiri.
"Mengapa (menghilang) itu jadi masalah? Untuk kembali ke rumah atau bukan itu adalah kebebasan dari orang itu sendiri, bukan?" Begitu menurut keterangan kepala divi orang hilang kepolisian Tokyo yang diwawancarai. Ia mengatakannya seolah itu adalah hal yang jelas, ekspresi wajahnya tetap datar.
Karena polisi tidak dapat berbuat banyak, Michiko menyewa penyidik swasta. Tapi itu juga tidak banyak membantu karena petunjuk yang diperoleh sangat sedikit.
"Saya pergi ke stasiun setiap hari, kalau-kalau ia akan muncul di sana. Saya tidak tahu dimana ia menginap. Saya bertanya-tanya apa ia memikirkan saya? Ketika saya berada di kamar sendirian, saya merasa tak berdaya. Bahkan sampai sekarang, saya merasa diri saya tidak berguna." Ujar Michiko sambil menangis.
Ketika nonton itu, gue juga jadi nangis akhirnya.
Gue yakin kenapa kakek Masayoshi merasa sangat tidak nyaman tinggal di panti jompo setelah bertengkar dengan staf. Mungkin beliau merasa sedih dan terhina dibentak seperti itu. Jadi ya... lebih baik pergi saja, toh? Tapi kenapa ia harus meninggalkan istrinya? Padahal mereka bisa pergi berdua. Kalau boleh sotoy, mungkin Masayoshi tahu Michiko akan lebih aman dan terawat berada di panti jompo. Karena yang merasa tidak nyaman adalah dirinya, jadi dia memutuskan untuk pergi sendiri.
Ketika orang menghadapi masalah atau merasa sedih, ga jarang mereka merasa paling menderita. Sekilas terdengar egois dan lemah, tapi itu manusiawi. Ketika lagi down, ga jarang pandangan kita jadi sempit dan ga melihat lebih luas. Kalau sudah terjebak dalam situasi seperti itu, kita pasti ingin pergi ke tempat yang lebih tenang, kan? Menghilang adalah salah satu jalannya. Tapi kita ga sadar kalau itu ternyata membuat orang terdekat kita terluka juga. Apa sepadan yang kita lakukan dengan menyakiti orang yang kita sayangi?
Tapi terkadang, pilihan itu ga selalu membawa keburukan. Di kolom komentar video, gue menemukan satu komentar yang kira-kira begini:
"Suami saya dulu juga kabur dari rumah selama tujuh tahun karena tidak tahan dipaksa melanjutkan pertanian orang tuanya. Selama kabur dari rumah itu, dia banyak bekerja paruh waktu dan menemukan jiwanya menjadi seorang akupuntur. Kemudian ia kembali ke rumah dan menyatakan keinginannya ke orang tuanya. Ibunya mengira ia telah meninggal."
Saat si suami kabur dan menjadi orang hilang, ternyata dia menemukan apa yang ingi ia lakukan dalam hidup. Selama dalam pelarian itu, dia banyak pindah tempat tinggal, pindah tempat kerja, dan ketemu banyak orang. Banyak perjalanan yang membantu pengelananya untuk menemukan sesuatu. Jadi yah, bisa dibilang pilihan dia engga sia-sia. Mungkin memang sudah jalannya.
((Videonya di postingan selanjutnya))
((Videonya di postingan selanjutnya))
***
Akhir-akhir ini banyak yang bikin urat gue berasa tegang. Toh, kalau dipikirkan doang segalanya tidak akan selesai begitu saja. Well, kalau gue ga bisa berandai-andai masalahnya hilang atau terselesaikan secara ajaib, minimal gue bisa berharap untuk menghilangkan perasaan gue saja. Like hocus pocus--all your worries and anxiety and mood swings are vanished.
Tapi rasanya, menghilangkan perasaan sekejap kayak gitu juga ga mudah toh?
Kekhawatiran dan kegelisahan gue ini juga bukan tanpa alasan. Tolong jangan bilang ini masalah sepele dulu. Iya, mungkin lo jauh bisa mengatasinya lebih baik. Iya, lo lebih baik dari gue tapi tolong sekadar simak apa yang mau gue utarakan.
Pusing.
At some point, gue merasa ini salah gue. Karena gue ga make sure. Karena gue ga ngotot nanya. Salah gue yang ga tau. Salah gue yang iya-iya aja. Salah gue ga ngotot ke mba make upnya kalau gue maunya yang simpel aja. Salah gue kalau gue keliatan gendut kemarin.
Ketika gue nulis begini, gue ngerasa kalau gue lagi victimized dan itu membuat gue agak jijik sama diri sendiri.
Tapi gimana? Itu yang gue rasain.
Bukan cuma itu.
Gue merasa sangat ga berharga. Kalau keberadaan gue di sekitar orang gue itu cuma secuil kotoran. Ga bermakna, tapi ngeganggu.
Satu sisi gue takut banget ditinggal.
Tapi gue juga ga punya apapun yang buat orang mau stay sama gue.
Gue pengen menghilang.
Dengan posisi gue yang lagi vulnerable parah begini, gue bisa aja memilih untuk pergi dan ngilang. Ga perlu lama-lama. Sehari dua hari cukup, tanpa kasih tau siapapun, tanpa hubungin siapapun. Menyendiri, mencoba nenangin diri. Mencoba untuk figure out apa yang harus gue lakukan.
Dan gue pun ga yakin jika gue menghilang apakah nasib gue akan kayak si suami yang jadi akupuntur itu? Atau, gue malah apes kayak sugimoto? Atau malah jatohnya cuma nyusahin kayak Naoki dan buat khawatir keluarga kayak Masayoshi?
Sedihnya lagi, karena gue ini pengangguran yang nyaris ga bisa ngapa-ngapain, udah gitu jelek pula, gue merasa ga pantas merasakan ini.
Merasa khawatir, merasa sedih, kecewa, takut....
Gue juga takut hal ini malah mengundang tuduhan orang kalau gue cari perhatian, lemah, dan ga bisa menghadapi masalah. Ga pantes.... Ga berharga...
Aku beneran ga tau, kenapa mas begitu? Kenapa mas nunjukin kalau mas benci aku? Kalau aku gencut? Kalau aku ga bisa ngapa-ngapain? Kalau aku tukang bohong? Apa yang buat mas berpikir kalau perasaanku ga valid?
Comments
Post a Comment