Skip to main content

To Know, To Understand

"We can invest enormous time and energy in serious efforts to know another person, but in the end, how close are we able to come to that person's essence? We convince ourselves that we know the other person well, but do we really know anything important about anyone?"
--Haruki Murakami, The Wind Up Bird Chronicle


Gue menemukan line ini ketika baca The Wind Up Bird Chronicle di Perpustakaan Nasional. Ga nyangka ternyata koleksi buku Haruki Murakami-nya lumayanelengkap, lho.

Haruki Murakami memang ga pernah gagal untuk membuat gue amazed dengan karya-karyanya. Salah satu ciri khas penulisannya adalah dia sangat "cerewet". Cerewet dalam artian ada banyak banget hal yang dia tulis; tentang musik, sejarah, bahasa, bahkan sampa ke hal-hal remeh yang jarang sekali kepikiran sama orang lain. Unsur-unsur ekstrinsiknya kental, misalnya di Norwegian Wood tokoh utamanya berkuliah di sebuah Universitas Swasta yang lumayan terkenal di Tokyo dimana Murakami dulu juga berkuliah di tempat yang sama. Atau, ketika salah satu cerpennya yang tokoh utamanya pemilik bar, kebetulan Haruki Murakami juga pernah membuka bar. Selain itu, penggambarannya yang mendetail membantu gue memvisualisasikan setiap scenenya.

The Wind Up Bird Chronicle terdiri dari tiga bagian: Book of the Thieving Magpie, Book of the Prophesying Bird, Book of the Bird-Catcher Man yang dalam versi aslinya diterbitkan dalam buku yang berbeda, tapi dalam versi terjemahannya dijadikan satu buku tebal. Gue baru selesai baca sekitar tiga bab dari bagian pertamanya. Sejauh yang gue baca, buku ini bercerita tentang Toru Okada, mantan pegawai di firma hukum. Setelah resign, dia jadi full-time househusband sementara istrinya masih bekerja sebagai editor majalah.

Quote ini muncul pada Bab 2. Dimana Toru, yang saat itu baru saja menjadi bapak rumah tangga, mengerjakan pekerjaan rumah sebagaimana bapak rumah tangga yang baik. Dia berbelanja membeli kebutuhan rumah tangga dan bahan makanan untuk memasak makan malam. Hari itu, istrinya pulang terlambat, jadi Toru baru mulai siapin bahan pukul tujuh. Dia memutuskan untuk memasak tumis daging, toge, dan paprika hijau (enak ya... jadi laper--gue yang nulis ini sedang kelaparan). Istrinya pulang pukul sembilan, nampak kelelahan dengan wajah kusut dan mata merah. Saat itu Toru tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi di tempat kerja, tapi dia tidak mau kepo kepo ke istrinya.

Bersikap biasa aja, cari aman.

Istrinya mandi, dan Toru mulai masak makan malam. Tiba-tiba istrinya komplain soal kenapa dia membeli tissue toilet warna biru dengan motif bunga-bunga.

Toru bingung, itu cuma tisu toilet kenapa mesti sewot?

Istrinya bilang dia ga suka tisu toilet motif itu. 

Toru makin kebingungan. Mana dia tau kalau istrinya ga suka tisu toilet warna biru motif bunga? Mereka punya beberapa benda dengan motif serupa, istrinya ga masalah kenapa tiba-tiba muncul fakta kalau dia ga suka tisu toilet motif itu? Hal ini diperparah saat istrinya juga bilang kalau dia ga suka tumis daging, toge, dan paprika hijau.

Masa lo ga tau? udah enam tahun nikah sama gue. Kata istrinya.

Setelah itu situasinya jadi lumayan runyam. Toru raging langsung buang masakannya ke tempat sampah, istrinya nangis di meja makan.

Toh, pada akhirnya mereka berbaikan dan saat melihat tanggalan, hari itu ternyata adalah "Hari Pertama" istrinya. Pantesan aja sensian.

At the end, Toru jadi berpikiran panjang sejak kejadian itu. Memang, hal itu begitu sepele, hanya untuk di- "oh ya? wah, aku baru tau lho, maaf ya." Tapi Toru merasa ganjil, ia merasa kalau hal tersebut bisa menjadi sebuah awal dari sebuah hal yang besar. Bahwa ada dunia yang ga dia ketahui tentang istrinya. Bagaimana bisa dia tidur dan bangun setiap hari dengan orang yang terasa asing?

Sekarang, sudah waktunya gue berpendapat.

Pemahaman kita terhadap orang lain itu bukan sesuatu yang given, perlu effort. Ada proses dimana kita mencoba saling mengenal dan saling memahami... dan menurut gue, proses itu butuh waktu yang--variatif, sebenarnya, tapi gue bisa bilang ga sebentar.

Selama proses itu, akan ada banyak upaya dan pengorbanan yang kita lakukan. Kita harus menurunkan ego, kadang menempatkan diri kita setelah orang tersebut, ada yang harus kita berikan pada orang tersebut. Kita harus ada untuk orang itu, ada untuk mendengarkan segala keluh kesahnya, ada untuk bersimpati dan berempati dengannya. Interaksi, berkomunikasi. Trial and error, pastinya. Mungkin berkali-kali kita akan selalu berbenturan dengan kesalahpahaman. Yah ga usah gue panjang-panjangin lah yah, kalian mungkin lebih paham dari gue.

Tapi kita melupakan suatu fakta kalau: kita ga akan benar-benar bisa memahami orang lain 100%

Kenapa? Karena, ya... orang itu diluar kendali kita. Apa yang orang itu mau kita tahu dan apa yang orang itu ga mau kita tahu, itu sepenuhnya dalam kendali dia.

Setiap kali kita mencoba menggali sesuatu dari orang lain, sejauh apa kita tahu bahwa dia sudah benar-benar mengungkapkan semuanya? Setiap orang pasti punya batasan tersendiri apa yang mau dia bagi, kan? Se curcol-curcolnya orang, pasti akan ada yang dia tidak ungkapkan, bukan?

Gue sering banget mendengar kilasan-kilasan cerita mengenai seseorang yang baru mengetahui suatu fakta baru mengenai orang terdekatnya. Contohnya, mungkin.... kita baru tahu kalau ibu kita dulu pernah keguguran. Atau... ternyata ayah kita ga bisa berenang. Atau contohnya lagi.... pacar kita ternyata alien. (maaf ya, gue mikir keras contoh yang relatable tapi ga nemu). Kalau kita tahu fakta-fakta baru ini, apa yang akan kita pikirkan?

"Gue baru tahu..."
"Ternyata ga sesuai apa yang gue pikirkan..."
"Kok dia ga pernah cerita, ya?"

Seketika, kalian jadi merasa jauh dengan orang tersebut, kan? Ada satu sisi yang kalian belum pernah ketahui sebelumnya, lalu ketika kalian tahu, kalian merasa sangat asing dengan itu.

Eh... gue menyampaikannya dengan baik ga ya?

Hal-hal yang kita ga ketahui, mungkin karena effort kita untuk mengenal orang itu kurang, bisa jadi. Atau, jangan khawatir, memang seharusnya kita tidak perlu tahu soal itu (karena toh, dia ga cerita.)

Lantas, mengapa kita langsung merasa asing? Karena kita sudah terlalu pede dan mendeklarasikan "Ah! Gue kenal banget dia!"

Hal yang sama, juga berlaku untuk perasaan. Kita juga ga akan 100% paham apa yang orang lain rasakan. Perasaan orang itu ya orang itu sendiri yang tahu. Dia yang punya kendali.

Makanya, untuk mengatakan "saya mengerti perasaan kamu" itu... harus hati-hati banget mengungkapkannya. Karena apa benar kita sudah benar-benar mengerti betul apa yang dia rasakan? Siapa kita? Cenayang?

Kalau kita berada di posisi orang itu, belum tentu apa yang kita rasakan sama dengan yang dia rasakan, kan?

Karena itu, kalau ada yang datang dan curhat ke kalian, berusaha dengar baik-baik apa yang dia ceritakan. Coba pahami situasinya, tanyakan apa yang dia rasakan. Tekahir, jangan mencoba jadi pahlawan dadakan, jangan kasih solusi kecuali bila diminta. Cukup bilang "Terima kasih sudah percaya dan cerita ke aku."

Dari apa yang gue alami dan perhatikan... kebanyakan orang terlalu besar kepala dan sok tahu tentang orang lain. Karena itu, ga jarang mereka ga mau memberi effort lebih untuk mengenal mereka lebih jauh, mereka juga seolah menutup pintu untuk hal-hal yang baru dari orang itu. Berempati itu sulit, bener deh... untuk mendengarkan orang lain, untuk tidak menghakiminya dari apa yang kita yakini. Untuk mencoba lebih tahu orang itu... ga mudah... bagi gue pun sulit.

Dari mana kita tahu bahwa kita sudah memahami orang itu? Apakah kita sudah melakukan upaya yang sepadan? Atau kita hanya menjejalkan asumsi kita?

Gue, memang dasarnya cuek bebek lalalala.... kadang ada hal-hal yang gue ga tahu tentang orang di sekitar gue. Kadang, setelah gue tahu, gue jadi merasa sedih... harusnya gue lebih tahu. Harusnya gue lebih peduli. Harusnya gue meluangkan waktu lebih untuk mengenal orang-orang di dalam lingkaran terdekat gue, bukan orang lain. Gue cenderung menganggap kehadiran mereka adalah sesuatu yang... taken for granted (men, gue merasa jahat banget setelah menyadari ini) kalau ternyata value seseorang dalam hidup gue itu lebih dari apa yang gue pedulikan selama ini. Gue selalu cenderung menyepelekan keberadaan mereka, dan gue baru sadar ketika mereka udah ga ada.

Ironis, dimana ketika gue menyadari itu semua, hal itu tidak membuat gue menjadi pendengar yang baik atau orang yang mengerti orang lain. Ego gue masih kuat, dan kayaknya gue perlu waktu untuk me-manage-nya dengan baik. Hell, lupakan soal mengerti orang, apa kita sudah mengenal diri kita sendiri? Apa kita yakin dengan apa yang kita rasakan?

Kalaupun apa yang kita rasakan kuat, seberapa yakin itu adalah perasaan kita? Bukan perasaan yang dibuat-buat?

Apakah hal ini membuat kita nyaman? Apakah ini pilihan yang tepat? Apakah kita merasa takut? Apa yang sebenarnya kita inginkan?

Still itu seharusnya tidak menjadi pembenaran atas sikap egois kita ini.Bagaimanapun, perjalanan "mengenal diri" harusnya akan membuat kesadaran kita akan orang lain semakin kuat. Dengan begitu, semoga... kita bisa mengenal dan mengerti lebih baik.

Comments

Popular posts from this blog

Life Lesson from Slice of Life anime #1 - My Neighbor the Yamadas

Di tengah kesibukan jaga rumah dan anak (yang sejujurnya sedang gue laksanakan setengah hati belakangan ini--tapi ini bakal gue bahas di lain kesempatan) gue menyempatkan diri buat nonton film. Lebih tepatnya film-film Ghibli. Gue memang udah berkali-kali rewatch film-fim dari studio Ghibli, apalagi From Up of Poppy Hills yang notabene adalah favorit gue, tapi kali ini gue memutuskan untuk nonton dengan dubbing Bahasa Indonesia. Alasannya, karena anak gue suka ikutan nonton. Berhububg gue sedang berupaya meningkatkan kemampuan bahasanya, sebisa mungkin gue fokus ke satu bahasa dulu. (Saat gue nonton pakai audio Jepang dia ikutan niru soalnya. Contohnya "baa-chan! Baa-chan!"... Oke anak gue wibu sebelum waktunya). Surprisingly, dubbingnya bagus, yah meski ada di beberapa film yang rada ga pas tapi kebanyakan bagus. Hari ini yang gue tonton "My Neighbors the Yamadas", ceritanya bekisar tentang keluarga Yamada yang terdiri dari Takashi (Ayah), Matsuko (ibu), Noboru (an...

How to feel, exactly?

Ada satu line di serial drama CSI, yang sampai saat ini terngiang di kepala gue. Padahal, episode berapa, season berapa, gue sebenarnya sama sekali gak ingat. Kira-kira begini linenya: "Is that how you truly feel? Or you think you should feel?" Apakah itu benar-benar yang kamu rasakan, atau yang menurutmu harus kamu rasakan? Jujur gak ingat pasti bagaimana Grissom menyampaikannya, tapi kira-kira begitulah. Kalau gak salah dia lagi ngomong sama Miniature Killer di penjara. Kalau gak salah, si pelaku mengidap psikosis, mentally unstable, dan sudah melakukan pembunuhan beberapa kali. Jelas ketika dia meminta maaf dan bilang kalau dia menyesal, Grissom sangsi dan gak langsung percaya.  Memahami emosi itu gak mudah, let alone berempati secara tulus dan dari lubuk hati yang dalam. Seringkali gue gak merasa terkoneksi secara emosional dengan orang-orang sekitar gue. Paling mentok, gue cuma bisa acknowledge perasaan mereka "oh dia lagi sakit", "oh dia lagi sedih",...

Jalan Wibuku

Disela-sela kegiatan keseharian, gue menyempatkan diri untuk menonton ulang Hyouka. Hyouka adalah seri anime Jepang bergenre Mystery/Slice of Life  yang diadaptasi dari serial novel oleh Honobu Yonezawa. Novelnya pertama kali terbit tahun 2001 dan sampai saat ini sudah terbit hinggal volume 6. Seri animenya sendiri rilis tahun 2012, berarti sudah 7 tahun sampai entri ini di tulis. Premis dari seri ini bercerita tentang tokoh utama, Oreki Houtarou yang saat masuk SMA, menerima surat dari kakaknya agar masuk klub sastra klasik di sekolah barunya. Kemudian Houtarou bersama dengan teman-teman satu klubnya: Chitanda Eru, Satoshi Fukube, dan Ibara Mayaka memecahkan berbagai misteri di sekitar mereka. Sekilas seperti seri detektif, ya? Bisa dibilang seperti itu, sih, tapi kasus yang mereka pecahkan bukan kasus besar seperti pembunuhan atau pencurian. Misterinya adalah misteri sehari-hari yang ringan. Misalnya: kenapa Chitanda bisa terkunci di dalam ruang klub? Mengapa pengumuman seko...